Harga cpo Malaysia mengalami peningkatan selama 2 hari, dipicu kenaikan harga minyak mentah dan kembalinya harga minyak kedelai setelah Cina menyatakan akan mengalokasikan dana 4 triliun yuan ($586 miliar) hingga tahun 2010 untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Angka tersebut merupakan 5 kali dari GDP Cina pada tahun lalu.
Minyak mentah melonjak lebih dari $3 per barel karena aksi spekulasi dana yang Cina kucurkan akan membantu kelanjutan permintaan untuk bahan bakar di Cina, yang merupakan konsumen terbesar kedua di Cina. Edible oil, utamanya dipergunakan untuk makanan dam juga untuk program biofuel. Sementara itu minyak kedelai melonjak lebih dari 3% menjadi 34.90 cent per pound.
Kenaikan minyak sawit merupakan kombinasi gain minyak mentah dan kacang kedelai, peluang peningkatan permintaan di Cina dan penurunan dollar.
Minyak sawit untuk kontrak Januari sempat meningkat lebih dari 5.4% menjadi 1,696 ringgit ($479) per ton di MDEX, sebelum kemudian ditutup pada 1,626 ringgit. Harga minyak sawit sempat menyentuh level terendah di 1,331 ringgit per ton pada 28 Oktober, jatuh sekitar 70% dari rekor di bulan Maret.
Sementara itu dalam perdagangan di BBJ, harga olein futures kontrak Januari 2009 ditutup meningkat Rp.125/kg atau 2.27% menjadi Rp.5.630/kg dipicu sentiment kenaikan harga cpo di Malaysia dan kenaikan harga minyak kedelai di New York serta terus melemahnya Rupiah.
Di pasar fisik, pada lelang kemarin, Pusat Pemasaran Bersama menerima pembelian sebesar 6.000 ton dari 8.500 ton yang ditawarkan. PPB menjual 1.000 ton ex-factory Medan dan 3.000 ton dari Belawan di Sumatera Utara ke PT. Multimas Nabati Asahan pada harga Rp.5.053/kg ($543 per ton).
PT.Bukit Kapur Reksa membeli 1.000 ton dari Pelabuhan Siak di Riau pada harga Rp.4.793 per kg dan 1.000 ton dari Pelabuhan Tayan di Kalimantan Barat pada harga Rp.4.813/kg.
Sementara itu Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) memasukkan 30 perusahaan India dalam daftar hitam karena membatalkan kontrak pembelian minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) yang mengakibatkan anjloknya harga CPO.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Akmaluddin Hasibuan, di Jakarta, Senin, mengatakan, pembatalan kontrak tersebut semakin merusak pasar dan menekan harga CPO lebih rendah lagi. Menurut Akmaluddin, dalam kontrak dengan India disebutkan harga 800 dolar AS per ton, namun importir India meminta agar harga kontrak diturunkan."Dengan adanya pembatalan kontrak ini, harga akan semakin jatuh menjadi di bawah 500 dolar AS per ton," ujar Akmaluddin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar